Bel berdering, mengejutkan siswa di SMP Al-Jamal.
Mereka terkejut karena hal ini menyebabkan mereka lebih dekat dengan pengumuman
UN tahun ini dan banyak lagi pengumuman hari ini. Hiruk pikuk siswa ramai dilapangan
ini yang telah menjadi saksi bisu sekolah ini. Upacara dimulai, dibuka dengan
berbagai sambutan. Sambil menunggu, lamunanku melayang, mengingatkanku akan
kejadian satu bulan lalu.
***
Flash Back
Hari ini ke 236 aku pulang sekolah dengan membawa
sepeda dan kerajinan tangan yang diperintah oleh ibu Intan. Aku melewati bantaran
sungai serayu, aluran musik dari batu kokoh berdiri menantang guyuran gelombang
sungai serayu. Saking asiknya melihat air di sungai, tiba-tiba “Blukk” ban
sepadaku menabrak batu dan kerajinan yang aku letakan di kranjang hanyut
terbawa air karna terlempar tadi. Padahal tinggal sedikit lagi selesai, hanya
penyesalan kini yang aku bawa pulang. Udah baju kotor, sepeda kotor, kerajinan
hanyut, lengkap sudah penderitaanku. Ku kayuh sepeda dengan laju standar dan ku senandungkan lagu lama.
“aku
pulang tanpa dendam, kuterima kasialanku.” gara-gara bersenandung hampir aja
nabrak tiang listrik. Mungkin memang diriku tak ditakdirkan bersenandung di
atas sepeda dan ditakdirkan untuk bernyanyi diatas panggung megah. “Mimpi‼!!”
“Assalamu’alaikum ibu, Bu. Ibu.. “ ucapku dengan suara merdu (merusak
dunia) dan melengking membuat kaca kaca rumah bergetar.
“Wa’alaikumsallam Zahwa. Anak ibu ada apa? Ibu belum
selesai kok santai?” jawab ibu bidadariku denganlembut.
“Eh ibu , bu kerajinan Zahwa hanyut, padahal lusa
harus selesai. Gimana bu? Kan Zahwa belum
tanya kok udah dijawab?” Tanyaku heran.
“Wah hanyut kok bisa? Ya udah kalau bisa buat lagi,
kalau nggak ya jujur aja bilang sama guru kamu aja. Ibu kan tau apa yang biasa
kamu ucapkan kalau pulang sekolah.” Jawab ibu.
“Ya gitu bu, panjang ceritanya. Hah yayaya Zahwa
ganti baju dulu ya bu?”
“Iya sana.”
Lepas
itu aku ganti baju, diganti dengan baju biru dan kerudung putih. Memang
insyaalloh aku udah hijab.Tapi, ya kadang sikapnya aku nggak mencerminkan (sadar diri). Oh ya kita belum kenalan ya,
namaku Siti Nurul Zahwa biasa dipanggil Zahwa. Cukup sekian dan terimakasih,
hehe.
Aku keluar kamar, ibuku menyambut dan menyuruhku
untuk menyerut gula merah. Itu ia gunakan untuk membuat putu ayu, bukan untuk dimakan tetapi untuk dijual. Ibuku melakukan
ini karena sejak 3 tahun lalu ayahku meninggal karna kecelakaan. Bahan putu ayu
telah siap, kini saatnya ibu go jualan.
Ibu telah
berangkat, kini saatnya aku belajar 2 jam. Aku duduk dikursi dan tak sadar ku
masuki alam bawah sadarku. Aku ada dikelas bersama temanku dan…. Ada aku yang
lain dan dia sedang duduk. Aku tak bisa menyentuh aku yang sedang duduk. Diriku
tembus pandang. Disana ada bu Intan sedang mendekatikuada percakapan dengan
diriku dan dirinya. Tapi, kenapa aku tak bisa mendengarnya? Tiba-tiba diriku
yang ada memberikan sebuah kotak, seperti kotak kerajinan, tapi kenapa aku
disana sambil menangis. Banyak pertanyaan dibenakku, dan tiba tiba terdengar
suara Bu Intan
“Jujur itu
lebih baik, mungkin memang akan menyakitkan, tapi percayalah Allah akan
memberimu yang terbaik.” Itulah kata-kata yang aku dengar dari Bu Intan. Usai
itu tiba-tiba cahaya menyilaukan membawaku ke tempat dimana aku tadi belajar.
Tiba-tiba terpikir kerajinanku tadi, aku akan
membuatnya lagi entah bagaimana hasilnya, terpenting aku sudah membuatnya.
Waktu tinggal 2 hari, aku membuat Bross dari
kulit salak dan benang wal. 3 buah
yang kubuat dengan sisa waktu 2 hari itu. Cukup kerja keras kulakukan, aku
harus membagi waktu antara belajar membantu my
mother, dan membuat ini kerajinan. Sampai-sampai waktu istirahatku ku
gunakan untuk membuat kerajinan dan aku libur mengaji karna itu.
***
“Teet. Teeeet.. teeeeeeett…..” dering bel
mengharuskan siswa berhenti berinteraksi dengan temanku dan menggantinya agar
berinteraksi dengan Sang kholik. Ini adalah hari ke 238ku sekolah tanpa hari
minggu dihitung ya. Sudah masuk semester dua dan Ujian Nasional sudah didepan
mata.
Bel kedua berbunyi, dan itu tanda tadarus pagi di
SMP Al Jamal telah selesai.Bu Intan guru kerajinan telah masuk ke kelasku. Dia
adalah guru yang saat ini kutakuti karena ia memerintahkanku agar membuat
kerajinan minggu kemarin. Memang waktu
sudah 1 minggu namun hanya harapan karna kerajinan yang lalu telah rusak
dan kini hanya ada ini harapanku. Usai salam Bu Intan menghampiriku.
“Gimana nih bilang enggak, bilang anggota, bilang
enggak ah udah bilang aja, terimaresiko itu juga akibat aku sendiri, lagian
mimpi itu..” Batinku
“Zahwa bagaimana candinya?” ucap Bu Intan.
“Oh, em itu,Bu, itu, anu.” Jawabku terbata.
“Anu apa?”
“Sebenarnya candinya sudah jadi, tapi hanyut dibawa
air sungai serayu karna saya jatuh saat pulangsekolah kemarin lusa.” Jelasku
sambil meneteskan cairan bening dari kedua mataku, kejadian itu persis seperti
mimpi waktu itu dan Bu Intan juga sama mengucapkan kalimat itu. Sebenarnya
kerajinan ini dibuat untuk lomba tapi entahlah,ya semoga bisa menang.
***
Mentari terbenam, pohon-pohon menunduk ucap syukur
kepada Tuhan atas nikmatnya hari ini. Disusul dengan kumandang seruan suci
menggema di negri ini. Itu tanda pengajianku tlah usai dan saatnya aku pulang
usai menunaikan shalat maghrib di
masjid.
“kenapa ya? Kok perasaanku nggak menentu kaya ada
yang dag-dig-dug entah kenapa,” batinku sambil memegang dada tempat sumber
suara. Aku menghilangkan kegelisahan ini dengan bersenandung sendu, memang sih
suaraku tidak merdu tapi yang penting bisa menghilangkan kegelisahan ini. Disebrang
jalan kulihat wanita paruh baya sedang duduk termenung menunggu hujan reda.
Memang hari ini hujan cukup deras, menemaniku berjalan sendiri sore ini.
“Ibu‼!” panggilku, sontak ibuku kaget dan menoleh
kearahku, dengan senyum terlukis diwajahnya. Dengan segera aku menghampirinya,
tanpa lihat kanan kiri ku berlari menyebrangi jalan. Ibuku tiba-tiba menerobos
hujan dan akan mendorong ku,namun naas, tak berhasil aku tertabrak oleh orang
yang tak bertanggung jawab ia lari begitu saja. Kini hujan menjadi saksi bisu
kecelakaan ini.
“Tolong-tolong‼!” teriak ibuku, darah segar telah
mengalir dari dari kepalaku. 15 menit aku tergeletak dijalan, air mata ibuku
menambah derasnya hujan. Tiba-tiba, ada mobil hitam berhenti.
“Bu Qomariah kan? Ada apa bu?” Tanya seorang pria
berjas mewah menghampiri, sepertinya ia kenal dengan ibuku.
“Pak Ali? Pak tolong pak, anak saya menjadi korban
tabrak lari.” Jawab ibuku penuh kesedihan. Hingga air mata ibu begitu banyak
menetes di wajahku.
“wah, cepat ayo kita bawa ke rumah sakit.”
“Ayo pak.” Jawab ibuku, bergegas aku dibawa ke rumah
sakit terdekat. Kini aku ada diruang UGD.
Keanehan terjadi padaku lagi, aku keluar dari
tubuhku dan tak ada seorangpun melihatnya. Ditanganku melingkar gelang putih
cantik. Tiba-tiba ada suara tanpa wujud memberi tahuku agar aku bisa melewati 3
tantangan. Aku akan masuk kedalam tubuh
seseorang dan dengan tubuh itu aku melewati tantangan dan gelangku akan
bertahap berubah warnanya itu sedang aku tidak tahu siapa orang itu. Waktu
hanya ada 1 bulan atau aku akan kembali kepada Sang Kholik.
Hari berlalu dengan cepat, mentari tlah tampakkan wujudnya lagi dan kini aku berada di tubuh seorang yang sama sekali tak ku kenali. Kulihat wajahnya dicermin tak asing bagiku tapi siapa dia? Hatiku bertanya seakan memberontak akan tubuh yang asing ini. Kulihat bukunya ‘SMK Al Jamal’ ini adalah sekolah yang 1 atap dengan sekolahku. Namun setelah kubuka lagi buku biru ini ternyata adalah diary anak ini. Dan disini aku tau namanya adalah Siti Nurul Putri hanya beda 1 kata dengan namaku. Aneh memang mungkin ini hanya kebetulan. Setelah kubaca lagi betapa kagetnya dia adalah kakakku selisih 2 tahun denganku. Sebenarnya ia diadopsi oleh seseorang namun ia kabur karna ia diadopsi hanya untuk dijadikan pengamen jalanan, cukup berani memang.
Ia kini membiayai sekolah dengan bekerja membantu
seorang pekerja putu,Bu Qomariyah namanya
“ibuku?kenapa ini terjadi, dan ibu kenapa tidak bilang? Kenapa?” tanyaku
dalam hati. Jam telah menunjukan pukul 05.00, kusudahi membaca diary dan
kutunaikan shalat shubuh. Setelah itu mandi dan bla-bla-bla, aku siap kesekolah
dengan diriku yang baru.
***
Jam menunjukan pukul 13.00,telah kutunaikan shalat
dzuhur dan sekolahku telah usai. Ternyata pelajaran di SMK itu melelahkan,
mungkin karena aku belum saatnya untuk itu. Kini aku pulang naik angkot karna
jarak dari kos-kosan kesekolah cukup jauh. Saat diangkot ada ibu-ibu membawa
banyak balanjaan dan ada dompet hitam keluar dari tas ibu itu. Tak lama
kemudian ibu itu turun dan dompet itu jatuh, kupungut dompet itu. Keinginanku
mengalahkan hati kecilku, untuk membuka dompet itu. Ada 15 uang 100.000 dan 5 lembar uang 50.000-an lengkap
dengan KTP dan ATM.
“Ambil aja uang itu dan beli laptop yang kamu
inginkan?” sisi hitamku berkelut.
“jangan ambil uang itu, mungkin ia lebih
membutuhkannya dari pada kamu.Kasihan keluarganya bagaimana jika itu uang untuk
membiayai anaknya sekolah, kasihan bisa-bisa anaknya putus sekolah.” Sisi
putihku melarang.
“Udah ambil aja dia itu pasti orang kaya lihat aja
belanjanya tadi.” Sisi hitam memaksa, dan terjadi pergelutan sengit antara ke-2
sisi itu. Namun sisi putih menang, kuhentikan angkot danku kejar orang tadi
tanpa memikirkan uang untuk pulang nanti.
“Bu tunggu!” Teriakku saat orang itu akan naik bus.
Untung saja orang itu belum lama pergi dari tempat tadi. Ibu itu diam dan
memperhatikan ku.
“Ada apa nak?” Tanyanya heran
“Ini bu dompet ibu jatuh tadi di angkot.”
“Benarkah? Alhamdulillah, terimakasih dek. Ini uang
untuk biaya sekolah anaku, jika tidak ada,dia bisa putus sekolah.”
“iya bu sama-sama”
“ini ada sedikit uang untuk adek, semoga
bermanfaat.” Sambil menyodorkan uang
100.000.
“Tidak usah Bu, saya ikhlas”
“Ya udah ini, saya juga ikhlas. Ambil ini,oh itu
sudah ada bis saya pulang dulu, sekali lagi trimakasih.” Paksa ibu itu dan
berlalu. Trimakasih ibu semoga Tuhan membalasnya. Kini aku pulang dengan
senang, karna selain bisa menolong, gelangku juga sudah berubah warna, sebagian
menjadi biru. Jadi tinggal 2 tantangan lagi agar aku bisa kembali lagi.
Sampai
dirumah, aku ganti baju lalu belajar, karna kebiasaan kak putri membantu ibu menjual
putu nanti sore.
Kumandang
adzan ashar tlah terdengar, shalat ashar kulakukan setelah itu mandi dan
membantu ibu sebagai kak Putri.
“Assalamu’alaikum.” Ucap seorang paruh baya.
“Wa’alaikumsalam.” Jawabku.
“Ayo nduk,
sudah siap?” Tanya ibuku
“Nggih bu.”
Jawabku dengan raga kak Putri, ibu tak tau kalau Putri adalah aku. Saat dalam
perjalanan ibu membuka percakapan.
“Bagaimana Put sekolahmu?” Tanya ibu sambil
mendorong gerobak putunya.
“Oh iya baik bu, kan dapat beasiswa jadi tidak
memikirkan biaya sekolah paling untuk makan sehari-hari dan membeli
perlengkangpan.”
“Alhamdulillah,
maaf saat ini tidak bisa membantu karena …..” ucapan ibu terpotong dan
berlinang air mata di pipinya.
“Ibu
kenapa?” Tanya heran.
“Karena
Zahwa masuk rumah sakit put, ia menjadi korban tabrak lari”
“Yang
sabar ya bu, aku tidak apa-apa kok, yang penting Zahwa sembuh”
Ucapku, rasanya aneh menyebut diriku sendiri, sambil
mencari pembeli ibu menceritakan semuanya. Betapa kagetnya aku bahwa sebenarnya
ayah meninggal bukan karena kecelakaan sendiri, tetapi ayah tertabrak oleh
mobil hitam dengan plat nomor W 8097 AZ ya, itu adalah plat nomor milik Pak
Ali. Kata ibu Pak Ali telah bertanggungjawab dan kini ia juga membiayai rumah
sakitku. Ibu juga bilang ia tidak memberi tahuku karena takut aku akan
membencinya. Ia juga ingin melamar ibu sebagai istrinya namun ibu tak mau
karena setianya ibu terhadap ayah. Ibu juga memintaku untuk kembali kerumah
menjadi keluarga yang bahagia, namun aku menolak dan memberi alas an ini bukan
waktu yang tepat.
Azan maghrib berkumandang, aku dan ibu bersiap
pulang Alhamdulillah dagangan kami laris dan aku diberi jatah harian Rp. 10.000
oleh ibu, cukup untuk makan esok dan uang saku sekolah.
***
Sudah 3 minggu kutempati raga kak putri. Namun tidak
ada tantangan, gelangku masih berwarna sama seperti 3 minggu lalu. Aku takut
aku akan kembali kepada Sang Kholik. Ini waktu yang tersisa hanya tinggal 1
minggu. Di saat-saat ini teringat kata ibu bahwa disetiap cobaan pasti ada
hikmahnya. Hal ini membuat kembali tenang, kulanjutkan belajarku dengan
pelajaran yang asing bagiku. Yaa pelajaran SMK. Ini aku lakukan setiap hari
sehabis sholat isya. Capek memang sudah membantu ibu, lalu belajar. Yaa itu
kerja kerasku untuk bisa membanggakan ibu kelak nanti. Jam telah menunjukan
pukul 22.00 WIB saatnya aku tidur.
***
Hiruk
pikuk kendaraan berlalu lalang di jalan raya ini. Tepat di depan sebuah pasar
tradisional aku menunggu angkot untuk pulang. Aku habis belanja perlengkapan
untuk praktek esok, ya praktek SMK lah. Tiba-tiba “Brukk” ada seorang pria tua
menabrakku, ia terlihat sangat lemah, berpenyakit, sungguh miris kelihatannya.
“Maaf, maafkan saya, saya tidak sengaja”
“Iya pak tidak apa-apa, apakah bapak baik?”
“ya seperti inilah, saya sebenarnya ingin membeli
obat tapi uangnya kurang”
“emangnya kurang berapa?”
“kurang
Rp 50.000”
“ohh
ini pak ada uang Rp. 50.000, semoga bermanfaat”Tanpa pikir panjang kuberikan
uangku, mungkin pak tua itu lebih membutuhkan.
“terimakasih
dik, semoga akan dibalas Allah dengan yang lebih baik” doa pak tua.
“aamiin”, sambil kuusap kedua tangan ku kemuka namun
saat kubuka pak tua itu sudah tidak ada, kucari ia di sekeliling namun hasilnya
nihil. Kini sisa uang di saku ada Rp 2.000 cukup untuk naik angkot. Toh uang
itu juga pemberian dari ibu-ibu 3 minggu lalu. Dan hal itu membuat gelangku
berlahan menjadi biru.
Matahari terbenam, hari mulai malam dan aku telah
bersiap untuk belajar, usai tadi membantu ibu. Saat ku akan duduk terdengar
ketukan daun pintu dan salam dari luar.
“assalamu’alaikum,
putri … put, putri?” suara panik terdengar
“wa’alaikumsalam”
sambil membuka pintu ternyata ibu, mukanya panik seperti ada kejadian yang
sangat penting.
“put
golongan darah kamu akan? Tolong ibu, Zahwa kini membutuhkan donor darah. Jiika
tidak segera, mungkin dia akan meninggal.” Air mata berlinang di mata ibu
“
iya bu,oh ayo cepat kita kerumah sakit.”Jawabku , tak ingin secepat ini aku
meninggalkan dunia
Aku
telah sampai dirumah sakit dan langsung menuju lab untuk diperiksa.Darah kak
putri, ternyata cocok dengan darahku. Maka transfusi dilakukan, kini aku telah
bersebelahan dengan ragaku yang terbaring lemas aneh rasanya, karena sudah 1
bulan kurang 2 hari aku tak bertemu dengannya.
Saat
transfusi berlangsung, terlelapku di dunia lain, ada cahaya menyilaukan bicara
padaku bahwa aku lulus. Aku bisa kembali ke ragaku lagi karena tantangan
terakhirku telah selesai yaitu mendonorkan darah. Yaa gelangku telah berubah
menjadi biru sempurna.
Kini aku telah kembali ragaku.Dan saat aku sadar ibu
mulai menceritakan semua tentang kak putri, Pak Ali, kak Putri dan kematian ayah.
Lega rasanya karena kini kak Putri telah kembali kepada kami. Kini kami telah
menjadi keluarga bahagia, aku bisa melakukan kegiatanku lagi sebelum aku koma 1
bulan lalu.
***
Tersadar
kini aku dalam lamunanku, pengumuman lomba kerajinan dipanggil, betapa kagetnya
bahwa ‘Siti Nurul Zahwa’ menjadi juara lomba kerajinan. Setelah itu upacara
dibubarkan,yang sebelumnya telah dibagi
amplop coklat yang berisi pengumuman hasil UN tahun ini. Dan diberitahukan agar
amplop tersebut dibuka dirumah masing-masing. Segera setelah dibubarkan kukayuh
sepeda secepat mungkin agar aku cepat sampai di rumah ingin rasanya aku melihat
hasil nilai tersebut baik.
15
menit aku sampai dirumah kosong tak ada satu orangpun.
“assalamu’alaikum ibu, kak putri,???” tak ada
jawaban, tiba-tiba ada yang menutup mataku dan mencuri amplopku.
“heei
siapa itu, siapa?!” tanyaku membentak.
“horeee‼!
Bu, Zahwa dapat NEM 39,75 dan ia mendapat beasiswa SMK penuh selama 3 tahun”
teriak kak putri.
“Alhamdulillah,
selamat ya anaku.” Ucap ibu sambil menangis dan menyalamiku. Kini kata-kata
ayah menjadi kenyataan bahwa orang baik akan mendapat hal tak terkira tempat
dan waktunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar