Rabu, 14 Januari 2015

elektronika



Rangkaian amplifier Sederhana 8 Watt | Rangkaian amplifier sederhana ini mempunyai daya 8 watt. Amplifier ini menggunakan satu IC kecil (LM 383) dan didukung oleh beberapa komponen resistor dan elco. Komponen banyak dijual dipasaran, rangkaian ini sangat cocok bagi pemula untuk mencoba dan mempraktekkannya. Input menggunakan potensio meter, yang berfungsi mengontrol volume dari output misalnya MP3, Alarm, VCD atau dari PC anda. Catu daya yang dibutuhkan cukup dengan 500 mA 12 Volt.

Daftar Komponen :
C1
:
10uf Elco

C2
:
470uf Elco

C3
:
0.1uF Capacitor

C4
:
2000uf Elco atau 2200uF

R1
:
2.2 Ohm Resistor

R2
:
220 Ohm Resistor

IC1
:
LM383 8 Watt Amp IC
Atau TDA2002

*) :

o    Gunakan pendingin / heatsink untuk IC 1
o    Power Supply 500mA pada tegangan 12V.
o    C4 jika tidak ada, ganti dengan Elco 2200uF
o    Selamat Mencoba

Gelang Itu

Bel berdering, mengejutkan siswa di SMP Al-Jamal. Mereka terkejut karena hal ini menyebabkan mereka lebih dekat dengan pengumuman UN tahun ini dan banyak lagi pengumuman hari ini. Hiruk pikuk siswa ramai dilapangan ini yang telah menjadi saksi bisu sekolah ini. Upacara dimulai, dibuka dengan berbagai sambutan. Sambil menunggu, lamunanku melayang, mengingatkanku akan kejadian satu bulan lalu.
***
Flash Back
Hari ini ke 236 aku pulang sekolah dengan membawa sepeda dan kerajinan tangan yang diperintah oleh ibu Intan. Aku melewati bantaran sungai serayu, aluran musik dari batu kokoh berdiri menantang guyuran gelombang sungai serayu. Saking asiknya melihat air di sungai, tiba-tiba “Blukk” ban sepadaku menabrak batu dan kerajinan yang aku letakan di kranjang hanyut terbawa air karna terlempar tadi. Padahal tinggal sedikit lagi selesai, hanya penyesalan kini yang aku bawa pulang. Udah baju kotor, sepeda kotor, kerajinan hanyut, lengkap sudah penderitaanku. Ku kayuh sepeda dengan laju standar dan ku senandungkan lagu lama.
aku pulang tanpa dendam, kuterima kasialanku.” gara-gara bersenandung hampir aja nabrak tiang listrik. Mungkin memang diriku tak ditakdirkan bersenandung di atas sepeda dan ditakdirkan untuk bernyanyi diatas panggung megah. “Mimpi‼!!”
“Assalamu’alaikum ibu, Bu.  Ibu.. “ ucapku dengan suara merdu (merusak dunia) dan melengking membuat kaca kaca rumah bergetar.
“Wa’alaikumsallam Zahwa. Anak ibu ada apa? Ibu belum selesai kok santai?” jawab ibu bidadariku denganlembut.
“Eh ibu , bu kerajinan Zahwa hanyut, padahal lusa harus selesai. Gimana bu?  Kan Zahwa belum tanya kok udah dijawab?” Tanyaku heran.
“Wah hanyut kok bisa? Ya udah kalau bisa buat lagi, kalau nggak ya jujur aja bilang sama guru kamu aja. Ibu kan tau apa yang biasa kamu ucapkan kalau pulang sekolah.” Jawab ibu.
“Ya gitu bu, panjang ceritanya. Hah yayaya Zahwa ganti baju  dulu ya bu?”
“Iya sana.”
Lepas itu aku ganti baju, diganti dengan baju biru dan kerudung putih. Memang insyaalloh aku udah hijab.Tapi, ya kadang sikapnya aku nggak mencerminkan  (sadar diri). Oh ya kita belum kenalan ya, namaku Siti Nurul Zahwa biasa dipanggil Zahwa. Cukup sekian dan terimakasih, hehe.
Aku keluar kamar, ibuku menyambut dan menyuruhku untuk menyerut gula merah. Itu ia gunakan untuk membuat putu ayu, bukan untuk dimakan tetapi untuk dijual. Ibuku melakukan ini karena sejak 3 tahun lalu ayahku meninggal karna kecelakaan. Bahan putu ayu telah siap, kini saatnya ibu go jualan.
   Ibu telah berangkat, kini saatnya aku belajar 2 jam. Aku duduk dikursi dan tak sadar ku masuki alam bawah sadarku. Aku ada dikelas bersama temanku dan…. Ada aku yang lain dan dia sedang duduk. Aku tak bisa menyentuh aku yang sedang duduk. Diriku tembus pandang. Disana ada bu Intan sedang mendekatikuada percakapan dengan diriku dan dirinya. Tapi, kenapa aku tak bisa mendengarnya? Tiba-tiba diriku yang ada memberikan sebuah kotak, seperti kotak kerajinan, tapi kenapa aku disana sambil menangis. Banyak pertanyaan dibenakku, dan tiba tiba terdengar suara Bu Intan
   “Jujur itu lebih baik, mungkin memang akan menyakitkan, tapi percayalah Allah akan memberimu yang terbaik.” Itulah kata-kata yang aku dengar dari Bu Intan. Usai itu tiba-tiba cahaya menyilaukan membawaku ke tempat dimana aku tadi belajar.
Tiba-tiba terpikir kerajinanku tadi, aku akan membuatnya lagi entah bagaimana hasilnya, terpenting aku sudah membuatnya. Waktu tinggal 2 hari, aku membuat Bross dari kulit salak dan benang wal. 3 buah yang kubuat dengan sisa waktu 2 hari itu. Cukup kerja keras kulakukan, aku harus membagi waktu antara belajar membantu my mother, dan membuat ini kerajinan. Sampai-sampai waktu istirahatku ku gunakan untuk membuat kerajinan dan aku libur mengaji karna itu.
***
“Teet. Teeeet.. teeeeeeett…..” dering bel mengharuskan siswa berhenti berinteraksi dengan temanku dan menggantinya agar berinteraksi dengan Sang kholik. Ini adalah hari ke 238ku sekolah tanpa hari minggu dihitung ya. Sudah masuk semester dua dan Ujian Nasional sudah didepan mata.
Bel kedua berbunyi, dan itu tanda tadarus pagi di SMP Al Jamal telah selesai.Bu Intan guru kerajinan telah masuk ke kelasku. Dia adalah guru yang saat ini kutakuti karena ia memerintahkanku agar membuat kerajinan minggu kemarin. Memang waktu  sudah 1 minggu namun hanya harapan karna kerajinan yang lalu telah rusak dan kini hanya ada ini harapanku. Usai salam Bu Intan menghampiriku.
“Gimana nih bilang enggak, bilang anggota, bilang enggak ah udah bilang aja, terimaresiko itu juga akibat aku sendiri, lagian mimpi itu..” Batinku
“Zahwa bagaimana candinya?” ucap Bu Intan.
“Oh, em itu,Bu, itu, anu.” Jawabku terbata.
“Anu apa?”
“Sebenarnya candinya sudah jadi, tapi hanyut dibawa air sungai serayu karna saya jatuh saat pulangsekolah kemarin lusa.” Jelasku sambil meneteskan cairan bening dari kedua mataku, kejadian itu persis seperti mimpi waktu itu dan Bu Intan juga sama mengucapkan kalimat itu. Sebenarnya kerajinan ini dibuat untuk lomba tapi entahlah,ya semoga bisa menang.
***
Mentari terbenam, pohon-pohon menunduk ucap syukur kepada Tuhan atas nikmatnya hari ini. Disusul dengan kumandang seruan suci menggema di negri ini. Itu tanda pengajianku tlah usai dan saatnya aku pulang usai menunaikan shalat maghrib di masjid.
“kenapa ya? Kok perasaanku nggak menentu kaya ada yang dag-dig-dug entah kenapa,” batinku sambil memegang dada tempat sumber suara. Aku menghilangkan kegelisahan ini dengan bersenandung sendu, memang sih suaraku tidak merdu tapi yang penting bisa menghilangkan kegelisahan ini. Disebrang jalan kulihat wanita paruh baya sedang duduk termenung menunggu hujan reda. Memang hari ini hujan cukup deras, menemaniku berjalan sendiri sore ini.
“Ibu‼!” panggilku, sontak ibuku kaget dan menoleh kearahku, dengan senyum terlukis diwajahnya. Dengan segera aku menghampirinya, tanpa lihat kanan kiri ku berlari menyebrangi jalan. Ibuku tiba-tiba menerobos hujan dan akan mendorong ku,namun naas, tak berhasil aku tertabrak oleh orang yang tak bertanggung jawab ia lari begitu saja. Kini hujan menjadi saksi bisu kecelakaan ini.
“Tolong-tolong‼!” teriak ibuku, darah segar telah mengalir dari dari kepalaku. 15 menit aku tergeletak dijalan, air mata ibuku menambah derasnya hujan. Tiba-tiba, ada mobil hitam berhenti.
“Bu Qomariah kan? Ada apa bu?” Tanya seorang pria berjas mewah menghampiri, sepertinya ia kenal dengan ibuku.
“Pak Ali? Pak tolong pak, anak saya menjadi korban tabrak lari.” Jawab ibuku penuh kesedihan. Hingga air mata ibu begitu banyak menetes di wajahku.
“wah, cepat ayo kita bawa ke rumah sakit.”
“Ayo pak.” Jawab ibuku, bergegas aku dibawa ke rumah sakit terdekat. Kini aku ada diruang UGD.
Keanehan terjadi padaku lagi, aku keluar dari tubuhku dan tak ada seorangpun melihatnya. Ditanganku melingkar gelang putih cantik. Tiba-tiba ada suara tanpa wujud memberi tahuku agar aku bisa melewati 3 tantangan.  Aku akan masuk kedalam tubuh seseorang dan dengan tubuh itu aku melewati tantangan dan gelangku akan bertahap berubah warnanya itu sedang aku tidak tahu siapa orang itu. Waktu hanya ada 1 bulan atau aku akan kembali kepada Sang Kholik.

            Hari berlalu dengan cepat, mentari tlah tampakkan wujudnya lagi dan kini aku berada di tubuh seorang yang sama sekali tak ku kenali. Kulihat wajahnya dicermin tak asing bagiku tapi siapa dia? Hatiku bertanya seakan memberontak akan tubuh yang asing ini. Kulihat bukunya ‘SMK Al Jamal’ ini adalah sekolah yang 1 atap dengan sekolahku. Namun setelah kubuka lagi buku biru ini ternyata adalah diary anak ini. Dan disini aku tau namanya adalah Siti Nurul Putri hanya beda 1 kata dengan namaku. Aneh memang mungkin ini hanya kebetulan. Setelah kubaca lagi betapa kagetnya dia adalah kakakku selisih 2 tahun denganku. Sebenarnya ia diadopsi oleh seseorang namun ia kabur karna ia diadopsi hanya untuk dijadikan pengamen jalanan, cukup berani memang.
Ia kini membiayai sekolah dengan bekerja membantu seorang pekerja putu,Bu Qomariyah namanya  “ibuku?kenapa ini terjadi, dan ibu kenapa tidak bilang? Kenapa?” tanyaku dalam hati. Jam telah menunjukan pukul 05.00, kusudahi membaca diary dan kutunaikan shalat shubuh. Setelah itu mandi dan bla-bla-bla, aku siap kesekolah dengan diriku yang baru.
***
Jam menunjukan pukul 13.00,telah kutunaikan shalat dzuhur dan sekolahku telah usai. Ternyata pelajaran di SMK itu melelahkan, mungkin karena aku belum saatnya untuk itu. Kini aku pulang naik angkot karna jarak dari kos-kosan kesekolah cukup jauh. Saat diangkot ada ibu-ibu membawa banyak balanjaan dan ada dompet hitam keluar dari tas ibu itu. Tak lama kemudian ibu itu turun dan dompet itu jatuh, kupungut dompet itu. Keinginanku mengalahkan hati kecilku, untuk membuka dompet itu. Ada 15 uang  100.000 dan 5 lembar uang 50.000-an lengkap dengan KTP dan ATM.
“Ambil aja uang itu dan beli laptop yang kamu inginkan?” sisi hitamku berkelut.
“jangan ambil uang itu, mungkin ia lebih membutuhkannya dari pada kamu.Kasihan keluarganya bagaimana jika itu uang untuk membiayai anaknya sekolah, kasihan bisa-bisa anaknya putus sekolah.” Sisi putihku melarang.
“Udah ambil aja dia itu pasti orang kaya lihat aja belanjanya tadi.” Sisi hitam memaksa, dan terjadi pergelutan sengit antara ke-2 sisi itu. Namun sisi putih menang, kuhentikan angkot danku kejar orang tadi tanpa memikirkan uang untuk pulang nanti.
“Bu tunggu!” Teriakku saat orang itu akan naik bus. Untung saja orang itu belum lama pergi dari tempat tadi. Ibu itu diam dan memperhatikan ku.
“Ada apa nak?” Tanyanya heran
“Ini bu dompet ibu jatuh tadi di angkot.”
“Benarkah? Alhamdulillah, terimakasih dek. Ini uang untuk biaya sekolah anaku, jika tidak ada,dia bisa putus sekolah.”
“iya bu sama-sama”
“ini ada sedikit uang untuk adek, semoga bermanfaat.” Sambil  menyodorkan uang 100.000.
“Tidak usah Bu, saya ikhlas”
“Ya udah ini, saya juga ikhlas. Ambil ini,oh itu sudah ada bis saya pulang dulu, sekali lagi trimakasih.” Paksa ibu itu dan berlalu. Trimakasih ibu semoga Tuhan membalasnya. Kini aku pulang dengan senang, karna selain bisa menolong, gelangku juga sudah berubah warna, sebagian menjadi biru. Jadi tinggal 2 tantangan lagi agar aku bisa kembali lagi.
Sampai dirumah, aku ganti baju lalu belajar, karna kebiasaan kak putri membantu ibu menjual putu nanti sore.
Kumandang adzan ashar tlah terdengar, shalat ashar kulakukan setelah itu mandi dan membantu ibu sebagai kak Putri.
“Assalamu’alaikum.” Ucap seorang paruh baya.
“Wa’alaikumsalam.” Jawabku.
“Ayo nduk, sudah siap?” Tanya ibuku
Nggih bu.” Jawabku dengan raga kak Putri, ibu tak tau kalau Putri adalah aku. Saat dalam perjalanan ibu membuka percakapan.
“Bagaimana Put sekolahmu?” Tanya ibu sambil mendorong gerobak putunya.
“Oh iya baik bu, kan dapat beasiswa jadi tidak memikirkan biaya sekolah paling untuk makan sehari-hari dan membeli perlengkangpan.”
“Alhamdulillah, maaf saat ini tidak bisa membantu karena …..” ucapan ibu terpotong dan berlinang air mata di pipinya.
“Ibu kenapa?” Tanya heran.
“Karena Zahwa masuk rumah sakit put, ia menjadi korban tabrak lari”
“Yang sabar ya bu, aku tidak apa-apa kok, yang penting Zahwa sembuh”
Ucapku, rasanya aneh menyebut diriku sendiri, sambil mencari pembeli ibu menceritakan semuanya. Betapa kagetnya aku bahwa sebenarnya ayah meninggal bukan karena kecelakaan sendiri, tetapi ayah tertabrak oleh mobil hitam dengan plat nomor W 8097 AZ ya, itu adalah plat nomor milik Pak Ali. Kata ibu Pak Ali telah bertanggungjawab dan kini ia juga membiayai rumah sakitku. Ibu juga bilang ia tidak memberi tahuku karena takut aku akan membencinya. Ia juga ingin melamar ibu sebagai istrinya namun ibu tak mau karena setianya ibu terhadap ayah. Ibu juga memintaku untuk kembali kerumah menjadi keluarga yang bahagia, namun aku menolak dan memberi alas an ini bukan waktu yang tepat.
Azan maghrib berkumandang, aku dan ibu bersiap pulang Alhamdulillah dagangan kami laris dan aku diberi jatah harian Rp. 10.000 oleh ibu, cukup untuk makan esok dan uang saku sekolah.
***
Sudah 3 minggu kutempati raga kak putri. Namun tidak ada tantangan, gelangku masih berwarna sama seperti 3 minggu lalu. Aku takut aku akan kembali kepada Sang Kholik. Ini waktu yang tersisa hanya tinggal 1 minggu. Di saat-saat ini teringat kata ibu bahwa disetiap cobaan pasti ada hikmahnya. Hal ini membuat kembali tenang, kulanjutkan belajarku dengan pelajaran yang asing bagiku. Yaa pelajaran SMK. Ini aku lakukan setiap hari sehabis sholat isya. Capek memang sudah membantu ibu, lalu belajar. Yaa itu kerja kerasku untuk bisa membanggakan ibu kelak nanti. Jam telah menunjukan pukul 22.00 WIB saatnya aku tidur.
***
Hiruk pikuk kendaraan berlalu lalang di jalan raya ini. Tepat di depan sebuah pasar tradisional aku menunggu angkot untuk pulang. Aku habis belanja perlengkapan untuk praktek esok, ya praktek SMK lah. Tiba-tiba “Brukk” ada seorang pria tua menabrakku, ia terlihat sangat lemah, berpenyakit, sungguh miris kelihatannya.
“Maaf, maafkan saya, saya tidak sengaja”
“Iya pak tidak apa-apa, apakah bapak baik?”
“ya seperti inilah, saya sebenarnya ingin membeli obat tapi uangnya kurang”
“emangnya kurang berapa?”
“kurang Rp 50.000”
“ohh ini pak ada uang Rp. 50.000, semoga bermanfaat”Tanpa pikir panjang kuberikan uangku, mungkin pak tua itu lebih membutuhkan.
“terimakasih dik, semoga akan dibalas Allah dengan yang lebih baik” doa pak tua.
“aamiin”, sambil kuusap kedua tangan ku kemuka namun saat kubuka pak tua itu sudah tidak ada, kucari ia di sekeliling namun hasilnya nihil. Kini sisa uang di saku ada Rp 2.000 cukup untuk naik angkot. Toh uang itu juga pemberian dari ibu-ibu 3 minggu lalu. Dan hal itu membuat gelangku berlahan menjadi biru.
Matahari terbenam, hari mulai malam dan aku telah bersiap untuk belajar, usai tadi membantu ibu. Saat ku akan duduk terdengar ketukan daun pintu dan salam dari luar.
“assalamu’alaikum, putri … put, putri?” suara panik terdengar
“wa’alaikumsalam” sambil membuka pintu ternyata ibu, mukanya panik seperti ada kejadian yang sangat penting.
“put golongan darah kamu akan? Tolong ibu, Zahwa kini membutuhkan donor darah. Jiika tidak segera, mungkin dia akan meninggal.” Air mata berlinang di mata ibu
“ iya bu,oh ayo cepat kita kerumah sakit.”Jawabku , tak ingin secepat ini aku meninggalkan dunia
Aku telah sampai dirumah sakit dan langsung menuju lab untuk diperiksa.Darah kak putri, ternyata cocok dengan darahku. Maka transfusi dilakukan, kini aku telah bersebelahan dengan ragaku yang terbaring lemas aneh rasanya, karena sudah 1 bulan kurang 2 hari aku tak bertemu dengannya.
Saat transfusi berlangsung, terlelapku di dunia lain, ada cahaya menyilaukan bicara padaku bahwa aku lulus. Aku bisa kembali ke ragaku lagi karena tantangan terakhirku telah selesai yaitu mendonorkan darah. Yaa gelangku telah berubah menjadi biru sempurna.
Kini aku telah kembali ragaku.Dan saat aku sadar ibu mulai menceritakan semua tentang kak putri, Pak Ali, kak Putri dan kematian ayah. Lega rasanya karena kini kak Putri telah kembali kepada kami. Kini kami telah menjadi keluarga bahagia, aku bisa melakukan kegiatanku lagi sebelum aku koma 1 bulan lalu.
***
Tersadar kini aku dalam lamunanku, pengumuman lomba kerajinan dipanggil, betapa kagetnya bahwa ‘Siti Nurul Zahwa’ menjadi juara lomba kerajinan. Setelah itu upacara dibubarkan,yang  sebelumnya telah dibagi amplop coklat yang berisi pengumuman hasil UN tahun ini. Dan diberitahukan agar amplop tersebut dibuka dirumah masing-masing. Segera setelah dibubarkan kukayuh sepeda secepat mungkin agar aku cepat sampai di rumah ingin rasanya aku melihat hasil nilai tersebut baik.
15 menit aku sampai dirumah kosong tak ada satu orangpun.
“assalamu’alaikum ibu, kak putri,???” tak ada jawaban, tiba-tiba ada yang menutup mataku dan mencuri amplopku.
“heei siapa itu, siapa?!” tanyaku membentak.
“horeee‼! Bu, Zahwa dapat NEM 39,75 dan ia mendapat beasiswa SMK penuh selama 3 tahun” teriak kak putri.

“Alhamdulillah, selamat ya anaku.” Ucap ibu sambil menangis dan menyalamiku. Kini kata-kata ayah menjadi kenyataan bahwa orang baik akan mendapat hal tak terkira tempat dan waktunya.